Kamis, 25 Oktober 2012

Kisah Perang Dunia II - Milisi Bumiputra Tinggalkan Kotamobagu



Para serdadu anggota pasukan Batalyon Infantri Inheemsche Militie (Miisi Pribumi) Manado yang berkekuatan sekitar empat ratus orang itu dilatih dalam bidang kemiliteran di kota Manado dan dilanjutkan lagi selama berada di Kotamobagu. Angkatan yang sekarang merupakan penerimaan pada pertengahan tahun 1941. Adapun persyaratan untuk dapat diterima menjadi anggota tentara “inheemsche militie” (milisi bumiputra), selain berbadan sehat, berkelakuan baik sesuai surat keterangan dari hukum tua (kepala kampung) dan memperoleh izin dari orang tua, usia calon pada saat itu minimal harus 18 (delapan belas) tahun dan maksimal 24 (dua puluh empat) tahun. Usia-usia lainnya di luar kedua batas golongan usia yang ditentukan itu tidak dapat diterima. Selanjutnya si calon harus lulus mengikuti latihan dasar kemiliteran yang berlangsung selama enam bulan, sebelum dapat diangkat menjadi serdadu milisi, yaitu sebagai serdadu fusilier (fuselir) atau serdadu biasa pasukan infanteri (infanterist).
 Hari masih subuh, cakrawala berlapis warna merah muda bercampur kuning keemasan bergaris-garis lebar oleh awan tebal kelabu tua, merupakan refleksi dari pancaran sinar matahari yang memantul di kawasan puncak-puncak pegunungan berhutan lebat di daerah kerajaan Bolaang-Mongondow. Saat itu pasukan Batalyon Infantri Inheemsche Militie sedang dalam perjalanan menuju daerah tugas mereka yang baru, Poso. Mereka berbaris dalam formasi militer dengan berjalan kaki, mengendarairoda sapi, roda kuda, dan mobil, menyusuri jalur jalan yang hanya cocok untuk kendaraan rakyat tidak bermotor. Jalur jalan itu membelah hamparan pegunungan yang berhutan lebat menuju kampung Pusian. Dari sana pasukan itu bergerak terus melewati kampung Imandi terus ke Doluduo, yaitu daerah dataran rendah yang berhutan rawa, tetapi setelah empat puluhan tahun kemudian lebih terkenal sebagai daerah penghasil beras dan kedele serta merupakan gudang pangan bagi wilayah Propinsi Sulawesi Utara. 
Di sana-sini nampak bekas-bekas jejak sepatu kumpeni bertapal kuda besi serta jejak ratusan kendaraan roda sapi dan roda kuda yang dimuati penuh dengan alat-peralatan militer milik pasukan itu. Bekas-bekas itu tercetak di sepanjang jalan yang berlumpur dan becek karena hujan. Jalan lintas itu agak lama baru bisa kering, karena sinar matahari seolah-olah belum mampu menembus paruh hutan lebat yang masih perawan dan belum terjamah oleh kehidupan manusia. Pada lahan kering di sepanjang jalur jalan tertentu, nampak partikel-partikel debu mengudara, sementara pasukan Batalyon Infantri Inheemsche Militie itu masih bergerak terus dengan tertib. Mereka sedang mengejar waktu agar dapat terhindar dari jepitan kepiting oleh gerakan pasukan bala tentara Jepang dari arah utara dan selatan terhadap titik “Terminal X”, yaitu Liyon.
 Anggota pasukan yang terganggu kesehatannya dan tidak dapat melanjutkan perjalanan, terpaksa dititipkan dan ditemani oleh dua anggota pasukan di kampung yang mereka lalui. Memang semenjak berangkat dari Kotamobagu, batalyon infantri ini tidak mengikutsertakan anggota pasukan yang sedang sakit. Siang hari itu mereka beristirahat sedang pada malam harinya mereka jalan terus, demi menjaga kerahasiaan terhadap kemungkinan gangguan serangan pesawat udara Dai Nippon yang sewaktu-waktu dapat saja terjadi. Istirahat untuk makan siang maupun makan malam biasanya mereka lakukan ketika berada di kawasan perkampungan penduduk.
 Batalyon ini harus menempuh rute perjalanan darat sejauh sekitar 150 Km, yang mungkin juga merupakan sebuah perjalanan terpanjang dan bersejarah di kala itu. Namun pasukan batalyon infantri ini kemudian didetasir untuk waktu yang cukup panjang di Molibagu, sambil menunggu instruksi lebih lanjut dari komandan pasukan mayor B.F.A. Schilmöller yang telah lebih dahulu berada di Poso.
 Pasukan Batalyon Infantri Inheemsche Militie Manado itu tiba di Imandi, lalu mereka langsung mendirikan bivak-bivak untuk tempat mereka beristirahat. Selain itu pula, ditempatkan beberapa pos penjagaan sebagaimana lazimnya. Setelah beristirahat selama beberapa hari, menjelang dini hari di suatu malam, pasukan menerima perintah agar bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke arah selatan menuju Molibagu. Selepas tengah malam pada malam terakhir itu, kawasan kampung Imandi memang keadaannya sunyi senyap.
 Tetapi di saat yang demikian itu, agaknya masih ada sebagian anggota dari kelompok pasukan milisi itu yang belum juga mau memejamkan mata mereka untuk mengiringi rekan-rekan mereka lainnya yang sudah tertidur pulas ketika itu. Mereka sedang berbisik-bisik satu sama lainnya dalam kelompok-kelompok kecil di beberapa tempat bivak, dengan maksud untuk kabur melepaskan diri dari satuan batalyon mereka. Pada hakekatnya mereka itu dibayang-bayangi terus oleh masa lampau dan masa yang akan datang serta menghendaki adanya kepastian untuk tidak atau tetap menceburkan diri dalam situasi peperangan yang masih belum menentu di kala itu. Satuan kecil yang terdiri dari tiga-empat orang serdadu milisi itu mulai meninggalkan bivak selepas tengah malam, dengan tujuan lari ke arah utara untuk bergabung dengan anggota pasukan lainnya yang telah menyerahkan diri ke pihak penguasa Jepang.
 Sementara itu, serdadu-serdadu yang bertugas di pos-pos penjagaan telah mencium adanya gerakan dari beberapa rekannya itu yang meninggalkan bivak lengkap dengan senjata mereka, dengan kata lain, melakukan desersi! Pos-pos penjagaan itu mulai melepaskan tembakan di malam gelap itu tanpa sasaran yang jelas dan keributan pun mulai terjadi di seluruh lokasi bivak.

Komandan batalyonnya, kapten De Swert dan wakilnya letnan I Van Daalen yang tentunya kaget terbangun, segera memerintahkan agar dilakukan pengejaran. Sersan mayor Umboh dan sersan furirJan Ratumbanua ditugaskan untuk memimpin upaya pengejaran beserta beberapa orang rekan bintara lainnya dari satuan pasukannya. Maka terjadilah tembak-menembak jarak jauh tanpa menimbulkan korban di kedua belah pihak. Pihak yang dikejar akhirnya menghilang ditelan hutan rimba kawasan daerah Dumoga. Namun, yang membuat sang komandan tercengang adalah setelah ia menerima laporan, bahwa sersan mayor Umboh dan sersan furir Jan Ratumbanua juga ikut menghilang dan diduga keras telah turut bersama kelompok yang melepaskan diri dari satuan Batalyon itu!
 Peristiwa itu merupakan suatu respons yang kemudian melahirkan sikap politik dari perkembangan situasi politik yang diulas dalam wujud berita-berita hangat melalui mass media antara lain “Indonesia Berparlemen” oleh GAPI (Gabungan Politik Indonesia), “Petisi Soetardjo”, dan lain-lain oleh para tokoh pejuang nasional, sehingga cukup mematangkan kesadaran nasional di kalangan anggota pasukan milisi itu. Terlebih pula setelah mereka itu membaca tentang pergolakan politik internasional, khususnya seputar pembentukan dan demonstrasi kekuatan militer di antara negara-negara di kawasan Asia-Pasifik, seperti yang selalu disuguhi oleh DR. G.S.S.J. Ratulangi dalam terbitan berkala “Nationale Commentaren”. Ini diperkuat pula oleh tulisan pers terbitan kota Batavia dengan judul “‘t Geel Gevaar” (bahaya kuning), yang dimaksudkan sebagai munculnya negara Jepang sebagai salah satu power di antara ke tiga negara “Pakta Tripartit”. Dimensi politik di atas ini niscaya mewarnai pula peristiwa Imandi yang kemudian berekor di Molibagu.
 Di kalangan pasukan KNIL dikenal pula beberapa istilah sebutan atau sapaan untuk para opsir bawahan (bintara) tertentu, misalnya sersan I dan sersan II biasa disapa dengan “baas” dan “pang” oleh anggota pasukan, sedangkan “kecik” adalah sebutan untuk yang berpangkat kopral. Mereka yang berpangkat sersan mayor dan sersan I sebagian besar berkebangsaan Belanda, sedangkan yang berpangkat sersan II rata-rata berkebangsaan Indonesia dan umumnya berasal dari Manado atau daerah Minahasa. Setiap hari para opsir bawahan ini selalu mengontrol dan mengecek jumlah anggota serdadu milisi yang berada langsung di bawah komando mereka, sehingga mereka tentu saja mengetahui siapa-siapa di antara para anggotanya yang menghilang.
 Dengan kedatangan rombongan evakuis baik sipil maupun militer di Molibagu, maka masyarakat setempat dan utamanya para sangadi (kepala kampung), seperti sangadi kampung Popodu, Ajub W. Jusup, sangadi kampung Totoluwaya, Rasid Ioentu, dan sangadi kampung Molibagu, M. Kombu, menjadi sangat sibuk. Di saat-saat genting seperti itu, mulai dari para opsir hingga opsir bawahan, senjata pistol mereka tidak lagi disandang di pinggang melainkan dibandelir pada bagian dada mereka. Serdadu milisi fuselir Toet Massie dan ketiga rekannya yang berasal dari Kawangkoan dan Sonder saat itu harus terbaring di tempat tidur karena sakit. Sersan I Stultjens menjenguk keempat serdadu itu lalu melaporkannya kepada Letnan Van Daalen.

Perkampungan Molibagu telah dibanjiri oleh kaum pengungsi dengan satu tujuan untuk mencapai daerah Poso di Sulawesi Tengah. Para evakuis yang berasal dari Manado dan daerah Minahasa, antara lain terdapat kontrolir Van Mook, keluarga Asisten Residen Rijsdijk, keluarga Been, dan keluarga pejabat sipil dan pengusaha berkebangsaan Eropa, terkecuali bangsa Jerman yang pro-Nazi dan bangsa Italia. Tersebut terakhir ini hanya melintasi Molibagu saja dan langsung meneruskan perjalanan menuju Liyon.
 Para perwira, opsir bawahan dan anggota pasukan Batalyon Infantri Inheemsche Militie pada malam hari itu berada di rumah Jogugu kampung Molibagu. Mereka sedang asyik mendengarkan berita-berita pertempuran yang terjadi di dalam negeri maupun di luar negeri yang disiarkan oleh Radio NIROM diBatavia Centrum.
 Pada hari Jum’at tanggal 17 Januari 1942 petang hari, tiga buah pesawat pembom Jepang yang dikawal oleh beberapa pesawat pemburu Jepang melancarkan aksi pengeboman di lapangan udara Polonia, Medan. Kerugian material hanya sedikit dan tidak ada manusia yang jatuh korban. Demikianlah komunike nomor tiga puluh sembilan dari Angkatan Perang Hindia-Belanda yang pada hari itu dikeluarkan. Selain itu, juga diberitakan bahwa lapangan udara Mandai, Makasar (kini: bandar udara Hasanuddin) diserang oleh delapan buah pesawat pembom Jepang yang dikawal oleh tiga pesawat pemburu Jepang dan melepaskan delapan buah bom, namun hanya sedikit kerusakan yang terjadi dan tidak menimbulkan korban personil. Selanjutnya, terhadap pelabuhan Ambon juga terjadi serangan udara dalam dua gelombang oleh pesawat-pesawat pembom Jepang, namun tidak menimbulkan kerugian yang berarti.
 Dalam siaran berita luar negeri juga terungkap, bahwa eskadron artileri Tentara Inggris sepanjang hari melepaskan tembakan-tembakan kanon terhadap pasukan Tentara Jepang yang sedang bergerak maju di Gemas. Pada front bagian barat, pihak musuh berhasil mendarat di tepi bagian selatan sungai Muar. Pada tanggal 16 Januari 1942, juga terjadi serangan udara oleh pesawat-pesawat udara Jepang di atas kota Singapura, tetapi tidak ada yang jatuh korban.
 Pada hari yang sama itu, pesawat-pesawat pemburu dan pembom Sekutu dari “Far Eastern Command” kembali menyerang iring-iringan konvoi pasukan Tentara Jepang di jalan Gemas-Tampin dan berhasil merusakkan banyak kendaraan truk militer Jepang. Pesawat-pesawat pemburu itu berhasil pula menghancurkan barkas-barkas dan perahu-perahu yang sedang ditumpangi Tentara Jepang di muara sungai Muar. Terdapat banyak serdadu Jepang yang jatuh korban, sedangkan sebuah barkas sempat meledak akibat serangan udara itu.
 Selain itu pada dini hari pesawat-pesawat udara dari satuan Militaire Luchtvaart (ML-KNIL) telah menyerang kapal-kapal perang Jepang dekat pelabuhan Malaka. Bom-bom dijatuhkan pada sebuah kapal yang memiliki dua mast (tiang agung), sedangkan sebuah kapal lainnya ditembaki dengan mitraliur 12,7 mm dan akibat serangan udara itu kerusakan besar terjadi atas beberapa buah kapal laut berukuran kecil. Kapal pengangkut pasukan Jepang juga digasak oleh pesawat-pesawat udaraRoyal Air Force (RAF) Inggris antara Tanjung Keling dan Malaka.
 Keadaan di suatu pagi hari itu masih sunyi dan hanya kicauan burung-burung serta desiran buih air laut di tepi pantai yang terdengar menyambut datangnya sang mentari di atas muka bumi. Sersan mayorJ.M. Eerkens dengan suara lantang memberi aba-aba, “Geef acht”, “Voorwarts mars” (Siap, g’rak! Maju jalan, g’rak!), dan pasukan Batalyon Infantri Inheemsche Militie Manado pun mulai bergerak maju, meninggalkan Molibagu menuju Liyon sambil memboyong tiga belas orang tokoh tahanan politik, yaitu Ventje A.B.H. Waworuntu, Hukum besar Willem Momuat, Hukum besar Majoor Pelengkahu, Marinus Pandeiroot, O.H. Pantouw, G.E. Dauhan, R.C.L. Lasut, M.B. Tumbel,Anton C. Manoppo, A.P. Mokoginta, J.U. Mangowal, Wim Thomas, dan Raja Sangir Talaud,Sarapil. Sedangkan Jogogu A.W.A. Van Gobel yang baru saja ditangkap di Kotamobagu, telah sempat melarikan diri dari rumah tempat tahanan politik milik seorang bernama Mohamad di kampung Popodu. Ia pun langsung melarikan diri menuju kota Gorontalo.
 Rombongan pasukan Batalyon Infantri Inheemsche Militie Manado itu sebagian besar memang berangkat menuju Liyon melintasi daratan yang berhutan lebat dan rawa-rawa melewati kampung-kampung Sinombajuga, Momalia, Meambangu hingga tiba di Liyon. Ada juga sebagian kecil yang menggunakan perahu. Sedangkan bagi fuselir Toet Massie bersama ketiga rekan serdadu milisi yang ketika itu sedang sakit, dengan bersenjatakan karaben dan dipimpin oleh serdadu Kortverband kopralRumambi yang bersenjatakan K.M., mereka berlima kembali ke Minahasa melalui Belang dengan menggunakan perahu penduduk.
 Juga ada kelompok lainnya yang melepaskan diri dari Batalyon Infantri Inheemsche Militie itu, antara lain sersan Sangi, sersan Moningka, sersan Wangko Sumanti, kopral Singal, kopral Jan Sambuaga, kopral Tuturoong, fuselir Jan Tungka, fuselir Johannes A. Saul, fuselirKalesaran, dan fuselir Polii. Mereka melepaskan diri dalam kelompok-kelompok kecil di Molibagu, lalu dengan melintasi gunung Bonde mereka berhasil tembus ke dataran Dumoga menuju ke utara. Demikian pula ada kelompok lainnya yang melintasi kampung Tolondadu, kampung Tabilaa, menuju Pinolosian dan terus ke Belang, Minahasa.
 Peristiwa itu dengan sendirinya telah menimbulkan permasalahan yang serius di kala itu. Timbul pertanyaan, apakah sikap dan tindakan mereka itu didorong oleh suatu naluri perang yang negatif ataukah mungkin memiliki latar belakang yang berdimensi politik! Bila hal itu dikaji lebih lanjut dan diteropong dengan kacamata khusus dari sudut kepentingan militer, maka setiap serdadu yang meninggalkan satuannya tanpa ijin atau restu dari komandan batalyon atau komandan kompi yang bersangkutan, apa lagi dalam keadaan darurat perang, dapat digolongkan sebagai melakukan tindakan desersi. Serdadu itu akan dikenakan ganjaran hukuman berat seperti hukuman tembak mati sesuai ketentuan hukum militer yang berlaku.
 Namun empat tahun berselang kemudian, tepatnya dalam “Peristiwa Merah Putih” tanggal 14 Februari 1946 di Manado, justru sebagian besar dari para pelaku dan pemeran dalam peristiwa itu adalah dari kelompok para serdadu yang sebelumnya digolongkan sebagai yang telah melakukan tindakan “desersi”. Jika demikian halnya, maka affair yang terjadi di Imandi maupun di Molibagu itu kiranya lebih cenderung diwarnai oleh aspek dimensi politik perjuangan kemerdekaan daripada naluri fisik perang yang berbau negatif di kala itu.
 Sumber: Draft buku susunan alm. Jimmy Andre Legoh dan disunting kembali oleh Bapak. Johanes Mundung, eks Pilot Tempur TNI AU

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar